Kamis, 23 Oktober 2014

Menuju Permulaan

Suatu sore di awal tahun, secangkir kopi panas yang diiringi angin khas senja hari, dan sebuah jiwa yang mengajak raga untuk pergi ke tempat yang baru. Berawal dari sebuah obrolan ringan tentang betapa indahnya dunia untuk dijelajahi bersama, hingga sebuah kesepakatan bahwa kali ini sang jiwa berkata yang sejujurnya, kami butuh membawa raga kami ke suatu tempat yang tak akan kami lupakan.

Kami butuh kembali ke awal. Ya, seperti Desember yang telah kembali pada Januari, kami butuh permulaan yang baru. Seketika muncul pertanyaan baru di atas pertanyaan yang belum terselesaikan, “apakah arti sebuah kata ‘awal’ itu sendiri?”. Awal, permulaan, titik baru, nol. Benar sekali, 0! Titik 0 mdpl adalah tujuan kami. Di mana kami dapat menemui titik tersebut? Tentu saja di pantai dengan lautnya. Setelah semua kesepakatan menjadi satu. rencana segera disiapkan.

Kendaraan telah siap, rencana telah matang, 9 orang pasukan telah yakin jiwanya, siap bertempur melawan rasa penasaran seperti apa rasanya kembali ke awal. Jumat tengah malam di bulan Januari kami memulai perjalanan kami, meninggalkan rumah dan menitipkan kota tempat tinggal. Meminta doa agar pencarian kali ini dapat kami tuntaskan. Saat kendaraan mulai dijalankan, doa pun mulai kami panjatkan.

Pantai Rancabuaya, Garut Selatan adalah tujuan kami, medan perang kami, sebuah pantai ditepi pegunungan yang menjanjikan pemandangan pesisir panjang tanpa hingar bingar turis. Sebuah janji yang patut kami percaya, rangkaian kata-kata yang sanggup membuat kami terus membayangkan betapa nikmatnya menyeduh secangkir kopi panas bersama sahabat dan melontarkan guyonan-guyonan khas kami di antara gunung dan pantainya. Merenjana di dalam kepala.

Bernyanyi riang sepanjang perjalanan tak lantas membuat kami berhenti menunggu. Tak lantas membuat kami lupa tujuan kami. Beberapa gunung telah kami puncaki, beragam kota telah kami lintasi. Hingga kami tiba di gunung terakhir sebelum kami sampai di tujuan. Gunung yang menyambut kami dengan nyiurnya yang melambai seakan mengucapkan selamat datang di pesisir dan sekaligus membuat kami bertanya-tanya, apakah 237 kilometer telah kami lalui? Apakah kami benar-benar sedikit lagi akan sampai?

Beberapa menit setelah pertanyaan terlintas di kepala kami, tepat di akhir tanjakan di puncak gunung, kami melihat pemandangan yang tak akan kami lupakan. Terlihat sebuah pemandangan pantai panjang dengan ombaknya yang seakan membentuk Taian di ujung mata kami. Riang, sorak sorai tak bisa ditahan, kami hentikan sejenak perjalanan kami untuk memandangi dan menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang apa yang baru saja kami lihat. Indah. Sekejap membebaskan pikiran kami dari terungku putaran roda dan debu jalanan  ibukota.

Setelah decak kagum dirasa cukup, segera kami menuruni gunung. Jalan aspal yang dihimpit gunung dan pantai pun sudah bukan sekadar kata-kata, kami ada di sini, kami ada di atasnya.

Gedung-gedung beton tergantikan pohon kelapa yang menjulang. Suara klakson kendaraan-kendaraan yang berhimpitan tergantikan desir ombak yang lembut menabrak pantai. Pertokoan di tepi jalan yang penuh dengan kerumunan sekarang diganti oleh pemandangan sawah luas dengan gubuk kecil milik seorang petani di tengahnya. Tempat ini adalah antonim, sebuah tempat untuk melepaskan.

Hanya ada satu jalan beraspal di tempat itu, jalan yang menyambung ratusan kilometer rumah kami dengan surga kecil di selatan Jawa Barat ini, satu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jalan aspal panjang yang membelah pegunungan dan laut yang kami lalui. Sepi, hening, tenang, menuntun kami mengikuti arah angin pagi yang bertiup dari arah laut, membawa aroma samudera ikut serta dalam tiap hembusannya.

Menelusur kami ke arah pantai, keluar dari jalan aspal, sedikit melambat sembari mencari tempat berteduh dan sekadar merebahkan kaki. Dapatlah sepasang kamar di lantai 2 sebuah rumah milik sepasang suami istri  yang memang sengaja dibangun untuk disewakan untuk para pencari plesir seperti kami. Sebuah rumah tepat di depan pantai, dengan balkonnya yang tepat menghadap ke arah pesisir, persis seperti yang kami inginkan.

                Hal pertama yang muncul di pikiran saya adalah memesan secangkir kopi panas dan membiarkan asapnya membawa segala pikiran tentang kota terbang dan menghilang membaur bersama udara, selagi saya menyeruput kental hitamnya yang sekental persahabatan yang telah sejarahnya telah kami ukir semenjak kecil.

                Di tempat inilah kami bercengkerama dengan alam, di tepian daratan. Berlari ke arah laut sambil bertelanjang dada, meninggalkan sejenak segala penat urusan ibukota. Namun tujuan kami belum usai, satu lokasi yang kami incar dan kami perhatikan juga sebagai tujuan utama kedatangan kami ke tempat ini. Sebuah bukit di tepi pantai di tepi jalan yang pagi tadi kami lewati, sangat menggoda untuk disambangi.

Menuju kehampaan


                Setelah melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang pemilik penginapan, kami pun mendapatkan rute menuju ke tempat tersebut. Beranjak kami menuju ke sana pada senja hari. Tidak sampai setengah jam, sampailah kami di tempat tersebut, dan tak pelak langsung kami dibuatnya kagum. Sebuah bukit hijau berlatarkan pegunungan yang juga tak kalah hijaunya, menghadap ke arah laut lepas dengan garis horizon Samudera Hindia menjadi batasnya. Layaknya sebuah balkon alam yang seperti sengaja didesain oleh Tuhan sebagai tempat untuk memahami bagian bumi pesisir pantai selatan dengan segala panorama yang menghiasinya, bukit Guha, nama tempat itu. Tak banyak kami berbicara, mata dan jiwa yang lebih banyak menikmatinya. Terduduk kami di tepian melihat ombak beradu merdu dengan burung-burung sambil meresapi jingga tenggelamnya sang matahari.

Alam jadi satu

                Malam hari telah menjelang, adzan magrib telah berkumandang dengan lantang. Kami pun kembali menuju penginapan. Saat hari tak lagi transisi, kembali kami ke bantaran pantai untuk menikmati malam, memesan beberapa minuman dan kudapan untuk menemani kami menikmati sinar bulan yang saat itu sedang temaram. Duduk melingkari sebuah lilin, kami saling berbagi cerita masa lalu sekaligus tanpa sadar sedang mengukir cerita masa depan.


Perjalanan ini bukanlah yang pertama, dan kami tak ingin menjadi yang terakhir. Ucap syukur kami kepada Tuhan yang telah memberikan kami kesempatan dan kebersamaan dalam kehangatan persahabatan. Terima kasih kami untuk tempat ini yang telah melengkapi pencarian kami seperti apa rasanya kembali ke awal. Di pagi hari mengikuti arah angin laut, kami kembali masuk ke daratan, pulang ke kota kami tanpa lupa meninggalkan sebuah janji, bahwa satu hari nanti, kami akan kembali lagi.

Sehangat kopi di senja hari

Minggu, 01 Juni 2014

Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 01

        Belakangan ini, masyarakat lebih suka menilai seseorang hanya dari judulnya saja. Hal ini yang membuat masyarakat tidak bisa melihat apa maksud sebenarnya dari kelakuan - kelakuan seseorang tersebut. Seperti judul dari tulisan ini, kami hanya mencoba memancing anda, para pembaca, seberapa besar sih, rasa ingin tahu yang anda miliki. Banyak dari anda pasti sudah mulai menduga - duga seberapa jauh perbedaan judul tulisan ini dengan isinya. Jika memang iya, selamat! 

Berikut beberapa judul film korea pilihan yang berhasil kami rangkum. Selamat menonton!

1. Architecture 101 (건축학개론) (2012)
The film tells the story of two students who meet in an introductory architecture class and fall in love. Fifteen years later, the girl tracks down her first love to seek his help in building her dream  

*** 


NB : Menurut kami, ini perjalanan-bego-pertama yang udah kami lakukan diantara perjalanan - perjalanan lainnya. Walaupun sebelum perjalanan ini kami sudah pernah ke beberapa tempat untuk fave hun aja, tapi tetap ini masih menjadi #1 untuk sebuah #lanjalanjamen. Gimana enggak, mulai dari tujuan, perencanaan, di perjalanan, sampai dengan kegiatan disana semua udah bisa masuk kategori bego remaja, pekerja, orangtua, dan tunanetra. Dengan siapapun kami cerita tentang perjalanan ini, mereka sudah pasti geleng - geleng idung pada akhirnya. Dari perjalanan ini kami banyak belajar tentang pentingnya liburan, kami juga mulai bisa mengkategorikan genre kisah cinta para anggota dari pilihan lagunya. Dari perjalanan ini pula jatidiri kami mulai keluar dari kandangnya, tidak sedikit demi sedikit, tapi langsung luber ga tau malu, berteriak lantang bersama - sama layaknya pria dewasa dengan PD tinggi. Iya benar, kami wota.

        Awalnya kami memang berniat untuk pergi ke suatu tempat yang jauh untuk menghilangkan penat. Tapi karena terlalu sering didiskusikan dan banyak pertimbangan, ujung - ujungnya nggak jadi. Hingga akhirnya pada suatu sore Hari Minggu tanggal 19 Mei 2013, Eka, Ussy, Ami, dan Anna memutuskan untuk pergi berenang. Dengan alasan Ussy ingin mencoba baju renang dua-potong-terusan barunya, ia mengajak kami ke tempat haram itu. Awalnya kami ragu, tapi setelah ia meyakinkan banyak pria - pria botak, kekar, bottomless disana, maka Eka dan Ami-pun terbujuk rayuan iblis untuk memulai kegiatan itu. Anna saat itu tidak mau terjerumus, karena ia tahu bahwa pada akhirnya Ussy pasti akan menjual kami semua dengan harga murah kepada mami - mami. Tapi apa daya, Ussy serta Eka dan Ami yang sudah termakan rayuan busuknya, mengikat Anna yang tidak berdaya dan memasukannya ke dalam motor (iya benar, memasukannya ke dalam motor, jok motor). Mereka kemudian membawa Anna, dengan mata yang ditutup ke sebuah kolam renang. Entah iblis apa yang telah merasuki pikiran mereka hingga tega melakukan itu semua dengan bangga. 

       Singkat cerita mereka telah selesai berenang. Setelah itu, lagi - lagi Ussy memperdaya kami untuk ikut dengannya dengan iming-iming nasi padang dan lagi - lagi Eka dan Ami dengan mudahnya mengiyakan ajakan iblis tersebut. Belum kering air di mata Anna setelah berenang, ia sudah dicoba lagi dengan cobaan yang amat berat. Entah dosa apa yang telah ia perbuat, pikir Anna. Padahal di kolam renang yang Ussy lakukan hanyalah berfoto foto dengan baju renang barunya yang bahkan lebih sering ia lepas. Foto foto itu kata Ussy untuk dikirim ke temannya, Krisni. Di warung nasi padang kemudian kami berbincang bincang sedikit tentang kemungkinan liburan untuk waktu dekat ini. Setelah beberapa menit akhirnya kami berempat mendapat kesepakatan tujuan dan waktu keberangkatan. Tidak lama kemudian Ussy mulai menghubungi Ocha dan Ria dan. Ussy mulai mengiming-imingi mereka berdua dengan gaji besar dan baju renang gratis. Untung saja mereka tidak seperti Eka dan Ami yang dengan mudahnya menerima ajakan Ussy. Mereka meminta waktu hingga hari Rabu untuk menjawab tawaran bisnis haram dari Ussy. Begitu juga dengan Anna, yang sedang menunggu panggilan kerja dari perusahaan asuransi ternama di Hari Rabu.

       Kami ingat, Hari Senin bahkan belum usai, Ocha, Ria, dan Anna sudah bisa menjawab tawaran kotor dari Ussy. Ocha setuju dengan syarat ia ingin baju renang itu berwarna kuning dan dikirim kepada salah satu dosen pengajarnya. Anna ternyata tidak diterima di perusahaan asuransi tempat ia melamar, perusahaan itu sedang butuh pria single botak klimis. Jadi ia yes untuk tawaran Ussy. Ria tidak bisa ikut, yang pada akhirnya nanti hanya ia yang ternyata bisa berpikir jernih dan selamat dari tangan si nenek tua tiri busuk itu. Pun demikian dengan Eka, ia ternyata ada ujian memasak pada hari keberangkatan. Ia diminta memasak pakaian kotor oleh penguji. Kami sempat bertemu dengan Tias dan Inggrid di kolam renang tetapi mereka tidak bisa ikut. Mereka sudah pernah ditipu oleh Ussy dan tidak akan mengulanginya lagi. Saat itu Tias meminta dibelikan Nasi Uduk tetapi Ussy malah pergi tanpa kabar. Ussy mengganti nomor teleponnya, pindah rumah ke luar kota, mengganti susunan giginya dan juga nama dada di baju seragam SD-nya. Semua ia lakukan hanya untuk menghindari Tias yang meminta dibelikan nasi uduk.

        Ada kejadian tak terduga pada Hari Rabu, 2 (dua)  hari sebelum keberangkatan. Ocha, ia tak menduga sebelumnya akan terjadi hal seperti ini. Dosen pengajarnya yang telah menerima baju renang pemberiannya ternyata meminta warna lain. Ia meminta baju renang warna transparan! Bayangkan! seorang dosen mengenakan baju renang trans, tidak. Kami tidak punya waktu membayangkan hal itu. Lobby lobby iblis pun tidak terhindarkan. Ocha yang telah kenal lama dengan Ussy tahu betul cara melunakan hati dosen yang lebih suka mengenakan baju renang trans, tidak. Ternyata lobby iblis itu pun berhasil! Ocha berhasil membelokan keinginan si Dosen itu. Dan dengan itu, anggota perjalanan pun telah rampung. Ussy, Ami, Ocha, dan Anna akan memulai perjalanan bego pertamanya pada Hari Jumat, 25 Mei 2013. Dengan apa? 1985 Toyota Starlet milik Ussy. Cara kesananya gimana? In Google Maps We Trust. Disana ngapain aja? Tidak tahu. Berapa hari kami disana? 3 Hari. Jumat Malam berangkat dan Hari Senin kami sudah harus kembali dengan jarak titik   a - b = 551 km, tanpa mengetahui kondisi jalanan saat itu. Perencanaanya pasti sudah matang jika cuma 3 hari? Kami hanya butuh waktu satu senja untuk memutuskan. Apa kami yakin hanya 3 hari? Iya. Bukankah itu agak bego? Tidak, itu memang bego, tolol bahkan. Jadi itu perjalanan tolol? Iya, karena tolol makanya kami yakin. And here we go, Jogjakartaaak!



     




Jumat, 23 Mei 2014

Pantai Pananjung Auuuuuuuuuu


Pananjung, 14-16 Mei 2014







Bermula dari hasrat mantai yang menggelora karena sudah lama teralihkan dunia sepeda dan kesibukan masing-masing, akhirnya ada obrolan mau ke pantai. Ngobrolinnya di Bukit Pelangi. Niatnya mau nyari suasana enak kesana, tapi sayang... sayang beribu-ribu sayang. Pas pengen mesen kopi diwarung sana, ternyata malah panorama air terjun hitam dari ketek sang ibu penjual kopi yang terlihat. Bulu-bulu yang mejulang dengan indahnya dari sela-sela baju yang terlihat saat beliau mengambilkan kopi yang ada diatas. Menakjubkan. Langka. Erotis. Waktu itu anggota yang udah siap ada Husen, Rio, Eka, Pekerja, Dimas, Fira, Adeknyaperdana, Tias, Inggrid. Obrolan kali ini tujuannya ke Pantai Pananjung, pantai yang beradi di daerah Pangandaran. Disana ga cuma ada pantai doang, tapi juga ada cagar alamnya. Cukuplah buat melampiaskan hasrat ketemu pantai. Kemudian Fira memberikan harapan kepada para lelaki gersang ini dengan iming-iming membawa dua orang temannya. Gembira tidak dapat terelakan. Bahagia bukan main para lelaki gersang ini mendapatkan suntikan oase lainnya. Karena jumlah orang 11, jadi mau tak mau harus bawa 2 mobil. Demi meminimalisir biaya bensin dan hidup disana, akhirnya diajaklah Yudis dan 1 orang temen Rio. Total jadi 13. Hari-hari menunggunya hari H pun dilalui dengan senang gembira karena mereka masih berasumsi mendapatkan oase lainnya. Tapi ketika H-2 petaka datang, 2 oase yang dijanjikan membatalkan ikut. Katanya sih gara-gara bokap salah satu temen Fira ini baca berita tentang pembacokan. Yaelah om, laki-laki gersang doyan JKT48 kaya mereka mana bisa megang golok sih om. Nah temen satunya gamau ikut kalo si anak om ini gaikut. Para komplotan pria gersang ini pun meraung sedih. Oase yang dijanjikan ternyata hanya harapan belaka. Mau tak mau harus rombak formasi lagi karena jumlah manusianya jadi 11 orang doang. Dan berita itu dilayangkan H-2 jam 10 malem. Akhirnya percakapan pun dibuka digrup perkara mau bawa 2 mobil atau 1 mobil. Soalnya jumlahnya kelewat nanggung kalo 11. Dan ternyata adeknya perdana juga gabisa ikut gara-gara diculik ke Jogja. total jadi 10 orang. Nanggung akut. Akhirnya Rio batalin temennya jadi 9. Tapi mobil Tias ga bisa kalo 9 orang, terus Husen gatau mobilnya bisa apa enggak kalo 9. Jadi dicoba pake rencana 2 mobil, diajaklah Abang dan Puspita + temen Rio yang tadi. Oiya, Cahyo yang menghilang dari goa tertiba muncul dan diajakin mantai juga. tapi nunggu kepastiannya bisanya besok paginya. jadi kalo Cahyo bisa dijadiin 2 mobil, kalo ga bisa ya cuma 1 mobil aja. Sok penting bangsat. Ternyata pas H-1 pagi Cahyo ga bisa. Jadi dipake lah rencana yang 1 mobil, dan Husen pun memberanikan diri untuk izin kepada bokapnya dengan memberikan emot " :) " mautnya ke grup sebelum dia izin. Dan ternyata boleh. Jadi fix lah kami ke Pantai Pananjung dengan total 9 orang dengan 1 mobil.

Pada Hari H semua ngumpul di KYN. Satu persatu peserta mulai berdatangan. Air mata masih terlinang dimata para lelaki gersang yang kehilangan dua oase ini. Setelah cipika cipiki dengan Ibu Purwanti dan semua barang sudah masuk, jam 11-an kami take off dari KYN. Sepanjang jalan sih ga ada halang rintang yang berarti, tetapi pas di tol malah macet pol. Ya agak aneh aja sih jam 1 malem macet di tol. Ditengah riuh hiruk pikuk mobil dan truk, tiba-tiba ada surga datang dari belakang. Mobil dengan sirene ngiung-ngiung datang membawa pasukan disebelah kanan. Husen yang kala itu memegang stir langsung ngikut dibelakang ambulance. Onta berkaki tiga bertangan satu yang amat terlatih ini akhirnya membawa kami lolos dari jebakan macet dengan bantuan dari surga. Trus ada yang mau kencing, jadi berhentilah kami di pom bensin sekitairan daerah Sumedang. Husen juga turun terus berjalan keluar pom bensin, ga ada yang merhatiin sih, terus balik-balik bawa tahu. Sumringah bukan main para manusia dimobil. Apalagi Fira. Dengan brutal tahu tersebut diperkosa hingga tak sadarkan diri. Namun na'as, fakta mengejutkan terkuak, ternyata tahu tersebut dari tempat sampah. Ada nasi nyasar pula. Perut kelaperan jam 3 pagi memang bikin liar serasa kena guna-guna istri muda. Lagian juga mana ada juga yang jual tahu sumedang di pom bensin jam 3 pagi, pake nasi nyelip pula. Terus kena macet lagi disekitaran Malangbong, macet parah. Terus akhirnya napas bentar di pom bensin deket-deket situ sekalian cari sarapan. Pas banget disana ada kupat tahu, sekalian beli terjadilah percakapan, W: "pak ini kenapa macet banget sih?" trus dijawablah sama si abang, Abang: "soalnya lagi banyak mobil dek". Logis.

Bet bet bettt, setelah selap-selip sana-sini sampai lah kita di tkp sekitar jam 11an. Dapet penginapan murah, mayan, 300k dapet rumah 2 kamar full ac, 1 kamar mandi, tv kabel. Akhirnya setelah mandi, jajan, kayang dan solat satu persatu pun mulai tumbang. Terus niatnya pada mau liat sunset, disetel lah alarm. Katanya sih sunsetnya oks bet. Pantai Pananjung sebenernya ga cuma pantai. Disana ada cagar alamnya juga, cagar alamnya isinya ada rusa, elang, sapi hutan, sama monyet. Dulu sih katanya ada banteng juga disana, tapi katanya udah diungsiin ke Aceh, tapi malah kena tsunami. Dicagar alamnya juga banyak goa-goa peninggalan jepang gitu. Di monumennya sih katanya dulu Pulau Pananjung dulu itu mau dijadiin benteng pertahanan Jepang buat mantau daerah laut ama udara dari serangan Belanda. Lebih jelasnya tanya guru sejarah saja ya




salah satu manusia goa-nya


Di Pantai Pananjung juga bisa buat surfing, snorkling, sama ada wisata ngitarin pulau-pulau sekitarnya. Tapi ya gitu, niat hati mau liat sunset, tapi sayang hanya jadi angan-angan belaka. Pada tewas sampe mepet maghrib, tapi katanya sih ujan juga sih. Wes gitu, pas malemnya cari makan diluar nemu tukang soto harganya bersahabat. Dah gitu, jalan-jalan lah kami ke pantai melakukan ritual yang biasa tim kami lakukan kalo lagi mantai. Nge-Lilin. Bukan, ini bukan ngepet. Ini tradisi pengakraban kami sambil ngehabisin waktu malam mendengar desiran ombak, sambil diterangi cahaya bulan dan cahaya remang lilin sambil bercerita-cerita santai yang ujung-ujungnya ga santai. Kala itu bulan sedang indah-indahnya.




bulan kala itu



 Kali ini pembawa acaranya Eka ama Husen. Cerita pertama dimulai dari cerita Yudis, perkara percintaannya yang sedikit menggantung karena terjadi kesalahpahaman. Dilanjut cerita Antias dan Inggrid tentang masa depan hubungan mereka. Disela-sela sesi cerita, Rio sama Eka dengerin sambil mainan pasir ngebentuk titit. Dan dari dua cerita itu sang Host pun mulai menanyakan pertanyaan pamungkas, "Cinta itu apa sih?". 1 per 1 ditanyakeun, ada yang jawab semu, tanggung jawab, toleransi, kesetiaan, bullshit lah. Tapi notulen kita, Perdana, waktu itu menjelaskan bahwa cinta itu adalah suatu proses, cinta itu ada bukan tanpa alasan. Alasannya itu ya ada diproses itu. Berat emang kalo udah ngurusin perkara kaya ginian. Kadang kita emang mudah suka ngeliat sesuatu yang menarik bagi kita, trus makin kita suka makin kita dalami makin kita mengerti, ketika terjadi kecocokan antar kita dengan sesuatu tersebut akan timbul suatu perasaan sayang, perasaan yang kadang bikin lo bego, tapi ya lo doyan gitu jadi bego. Nah rasa sayang yang berangsur-angsur ya jadinya cinta. Kaya kata notulen tadi, proses. Waktu bersama sesuatu itu yang ngebuat kita timbul cinta. Kalo kata Rio sih cinta itu semu, mungkin gara-gara itu. Lo juga bakal bingung kalo ditanya alesannya kenapa lo bisa cinta ama sesuatu itu. Ya itu sih menurut pandangan gue. Cinta itu ga harus selalu pacar sob, masih ada kerabat terdekat dan hobi yang secara tak sadar tercinta tanpa sengaja.


suasana jaga lilin 

sang seniman dengan mahakaryanya




Yak, setelah sesi pelilinan, pulang lah kami ke penginapan kembali. Niatnya sih mau tidur biar ngejar sunrise, eh ternyata pada tergiur naik odong-odong. Ujung-ujungnya muterin Pangandaran pake odong-odong dengan musik dangdut full jedag jedug yang amat syahdu malem-malem, ujan pula. Tapi keren bre, pas malem ternyata rusa-rusa yang dari cagar alam pada turun ke daerah penginapan. Udah kaya kucing, pada ngubek-ngubek tempat sampah. Mau motret takut disodok. Lalu kami pulang terus main ABC 5 dasar absurd terus tidur.


Alarm berkoar-koar jam setengah 5an. Dan ternyata cuaca kurang mendukung liat sunrise. Mendung cuy. Tapi ternyata takdir berkata lain, pas mau nyebrang naik kapal, cuace mendadak cerah. Wah emang liburan kali ini diberkahi bung sepertinya. Setelah cincay-cincay dengan abang perahu, sepakat lah kita buat ngeliat-liat sikit sekitaran pulau dengan tambahan budget 10k. Wes gitu, akhirnya napak lah kita dipantai putih. Kedatangan kami kali ini disambut hangat kawanan monyet, Yudis si pemegang plastik ransum yang lemah imannya dirampok rotinya sama monyet tanpa perlawanan. Ngomong doang anak tekwon. Cih. Pas gitu juga ternyata Husen mau boker, berkelana lah kami menyusuri hutan yang ternyata nyambung dengan cagar alam itu. Ternyata zonk. Yaudah katanya Husen bisa nahan, berlanjut lah pengelanaan kami, sekarang nyari spot mantai yang asik. Ombaknya sih lagi ga slow waktu itu. Mana banyak orang pula, jadinya kami mojok sampe ke ujung dan nemu spot asik tanpa kawan monyet. Baru napak disana Husen mau melanjutkan pencariannya mencari toilet ternyata. Ngomongnya sih nyari toilet tapi malah foto-foto..



boker 1




boker 2



Sudah lupakan lah Husen dan perbokerannya, balik lagi ke pantai, setelah lama tak bersua dengan air laut akhirnya kami temu kangen kembali dengan air laut. Asin bre. Rasanya tiduran diatas pasir sambil mandangin awan sambil dengerin ombak diatas terik matahari. Serasa kencan berdua Chelsea Islan, terus mandangin sunset dipantai. Sadis lae. Dah gitu akhirnya kami balik ke penginapan terus nyantai bentar terus solat jumat terus siap2 terus cabs deh.




entah sunset entah sunrise










 laut lae





mantai lae





Dari pantai menuju pantai, setelah puas bercinta dengan pasir Pananjung, kami pindah lapak bercinta ke Pantai Batu Hiu. Kata Yudis sih gratis, ternyata kami tertipu. Disana masuk bayar 35k/mobil. Tapi ternyata tempatnya asik sih buat nikmatin panorama alam. Ga jauh beda ama Bukit Guha di Garut. Konon katanya sih Pantai Batu Hiu diambil dari cerita jaman beheula. Katanya dulu disana ada seekor Hiu yang durhaka sama ibunya. Akhirnya dikutuk deh jadi batu. Hiiii... serem yach.


hiu durhaka



























Well, setiap perjalanan pasti selalu ada cerita baru. Cerita yang bakal lo inget, lo bahas, terus lo ketawain bareng kelak. Seberapa berkesan ceritanya ya tergantung dari seberapa momen yang berkesan yang ada dicerita itu. Kenapa ga kita buat hidup kita jadi suatu cerita yang berkesan sob. kalo kata Rocket Rockers sih "Hidup kita adalah film terbaik". Kita sutradaranya men, mau kaya apa cerita yang kita mau ya kita yang harus buat. Kalo film kita butuh uang buat cerita yang kita mau, ya kita kawinin aja produser yang rela ngeluarin duit banyak. Muehehehehehe. Ga lah, ga semua hal menyenangkan butuh ngeluarin banyak duit sob. Contohnya ya ngopi bareng temen  lama sambil ngerokok di warkop sambil ngebahas cerita-cerita berkesan bareng. Kalo bisa buat film yang berkesan bareng-bareng kenapa harus jalan sendirian sob. Kita kan makhluk sosial. SOSIAAAAAAALL.. SOSIAAAAAAALL.. SOSIAAAAAAALLL SAMPE MATIIIIII...

Selasa, 20 Mei 2014

AHOOOY!!

Hoi hoooii.. Sebagai permulaan dari blog ini, marilah sejenak kita tundukkan kepala sejenak dan membaca Al-Fatihah agar blog ini bisa berlangsung sedikit lebih lama. Yak, perkenalkan ini adalah #Lanjalanjamen. Gue juga gatau dikasih nama ini gara-gara apaan. Bermula dari grup whatsapp yang dibentuk tanggal 15 Januari 2014 yang terbentuk disebuah warkop andalan "Sekatak" di Depok 2 dalem. Awal mulanya sih isinya cuma batangan penikmat JKT48  yang doyan jalan-jalan. Tapi makin lama sepertinya mereka mulai penat dengan gersangnya perjalanan mereka. Mulai lah mereka menjaring beberapa wanita, dan voilaa!! didapat lah 2 orang korban. Akhirnya batangan-batangan yang gersang itu kini sudah menemukan ladang oase yang segar. Biar enak ngomongin jalan-jalan sama kedua wanita tersebut akhirnya dibentuklah grup Whatsapp #Lanjalanjamen demi keberlangsungan oase ini. Sekarang jumlah digrup udah ada 12 orang, antara lain Anna, Ocha, Ussy, Eka, Tias, Ami, Icha, Fira, Tasya, Ria, Jojo,dan Disti. Kalo liat dari nama sih keliatannya emang penuh dengan oase, tapi sayang ada pepatah "dont judge a book by its cover". Niatnya sih pertama emang cuma buat jalan-jalan, tapi ya ujung-ujungnya kalo nongkrong juga jadi bareng-bareng. Kasian mereka, hidupnya gersang. Menyedihkan. Hina.

Berterima kasihlah kepada kemajuan teknologi yang membuat para lelaki gersang ini lebih mudah bermanuver mencari oase-oase. Dan terima kasih juga kepada warkop "Sekatak" selaku lapak berdiri grup ini. Semoga blog ini dapat berguna beberapa tahun kedepan biar perjalanan-perjalanannya ga cuma jadi memori sesaat diotak. Karena yang namanya momen sangat berharga sob. Ciao!














*nb: Gue percaya ayam itu sama sakralnya kaya sapi di India.