Rabu, 24 Agustus 2016

#GRGSKRSGSTSMTR

“Gue pengen ke Sumatera! Gue pengen menginjakkan kaki di tanah pulau paling besar di sebelah barat Republik Indonesia. Dan gue nggak mau melakukannya dengan alasan formal” Setidaknya itulah yang ada di pikiran salah satu teman grgskrs kita selama beberapa tahun terakhir. Nggak cuma mau menginjakkan kaki di tanah Sumatera, tapi juga ingin membawa pulang beberapa genggam pasir pantai dari sana yang sebelumnya sudah dikotori candaan-candaan kotor kami dan sudah diterangi cahaya lilin yang menghantarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah sering ingin ditanyakan tapi belum sempat kami lontarkan. Belum lagi beberapa keceplosan yang bisa bikin seseorang mendengarkan “Terlanjur Sayang” satu bulan penuh tanpa bosan. Jadi gini….
               Setelah sebelumnya gagal karena alasan izin dan persiapan yang kurang baik, kali ini kami berhasil membawa kru yang banyaknya sama dengan starting line-up Madura United kalo mau tanding, yak, 11 orang yang beberapa dari mereka mungkin adalah reinkarnasi ayam juara adu kokok di kehidupan sebelumnya. Beberapa orang gagal ikut karena alasan yang bermacam-macam, kami berasumsi mereka belum siap hatinya untuk merasakan pedihnya diterangi jiwanya oleh api lilin di bawah bulan langit Sumatera. Setelah semua persiapan disiapkan, doa agar selamat di perjalanan dan agar teman-kami segera lulus dikumandangkan, berangkatlah kami pada Jumat malam, 15 Juli 2016 (yang rencananya) pukul 7 malam, tapi ya gitu.
               Perjalanan malam selalu menjadi tantangan bagi para pengemudi, tapi saking percayanya kami dengan mereka yang sepertinya sudah menenggak beberapa botol minuman energi ditambah obat sariawan oplosan sebelum berangkat, beberapa penumpang pun tertidur. Ditemani playlist yang beberapa lagu di antaranya adalah tema dari satu-dua kejadian di masa lalu untuk beberapa dari kami. Perjalanan darat-laut-darat berhasil ditempuh kurang dari 12 jam yang telah diestimasi sebelumnya. Tanah Sumatera berhasil dijajaki.
 Sesampainya di tempat tujuan, kami segera mencari pak Yanto, seorang laki-laki seperempat atau sepertiga baya yang kami temui dari hasil penjelajahan internet dan selama ini hanya kami kenal suaranya. Bertemu Pak Yanto sungguh membuat hati damai dan merasa diayomi. Bapak yang mempunyai gaya rambut berekor dipadu dengan kulitnya yang kecoklatan seakan mengatakan bahwa dia sudah hafal betul semua tikungan-tikungan di Selat Sunda. Awesome.
Ke-awesome-an bapak bertubuh gempal ini semakin menjadi di luar batas kami dapat mengagumi seseorang ketika beliau mengajak 11 orang kelelahan yang baru saja mengarungi 3 provinsi selama setengah hari dengan akses multimoda ini untuk pergi snorkeling, tepat ketika orang pertama dari kelompok kami menjabat tangan beliau dan memperkenalkan diri. Dengan diiming-imingi kopi panas dan beberapa lirik lagu Om Iwan Fals yang tak kalah panasnya, Pak Yanto berhasil merayu dan memunculkan adrenaline kami kembali ke permukaan. Baiklah kalau itu mau bapak, gas.
Setelah menyelam di beberapa spot  dangkal berair jernih dan setelah puas ngintipin terumbu karang dan anemone laut beserta ikan-ikan yang mendirikan pemukiman di sekitarnya, acara dilanjutkan dengan makan siang di Pulau Pahawang Kecil. Pulau yang lumayan sering muncul di google kalo kita ngetik “Pulau Pahawang” terus kita klik “images” itu kini jadi meja makan kami.  Makan siang dengan lauk ayam goreng yang entah semasa hidupnya mereka berdomisili di mana, yang jelas mereka dinikmati di Pulau Pahawang Kecil saat mereka sudah tidak lagi bisa berkokok. Beberapa teman kami menangis saat makan.
Saat matahari sedang tinggi-tingginya, kami menolak ajakan Pak Yanto untuk kembali menyelam, beliau pun sudah tidak terlalu persuasif seperti sebelumnya melihat kami sudah bergeletakan sembarangan setelah makan siang. Sauh kapal kayu dengan penyeimbang bambu di kedua sisinya pun diangkat dan dilayarkanlah kami ke pulau yang lain lagi untuk beristirahat di penginapan yang sudah dipesan saat kami masih berada di provinsi lain. Tanpa pikir panjang, kami tertidur, dan terbangun disambut senjanya Sumatera.
Pagi, siang, ngopi, lalu malam. Ternyata urutan ini masih berlaku sama di tanah Sumatera. Dan malam di sana tak jauh berbeda dengan malam-malam yang biasa kami lalui di pantai-pantai sebelumnya. Kenapa? Gelap? Bukan, bukan itu maksudnya.  Tapi duduk melingkari sebuah lilin, di atas pasir, di bawah langit, di sisi laut. Mendirikan majelis internal yang tugasnya melakukan kajian yang isinya 80% tentang asmara anak muda, 10% tentang pengakuan, dan sisanya tentang politik, ekonomi, dan budaya. Tapi biasanya sih yang sisa-sisa gitu nggak baik. (Pesan ini disampaikan khusus untuk seseorang)
Majelis lingkaran perasaan tersebut nggak seperti biasanya, ditemani kopi hangat yang diseduh langsung di pantai oleh salah satu teman kami. Kopinya pun spesial, karena kopi yang kami sulangkan malam itu tidak lain adalah kopi Lintong yang asalnya juga dari tanah Sumatera, tepatnya dari Tapanuli, Sumatera Utara. Kopi yang juga menemani kami menguak beberapa rahasia dan meluruskan perasaan yang selama ini mungkin disembunyikan atau belum berani diungkapkan. Satu hal lagi yang membuat perbedaan adalah hujan yang tiba-tiba turun memadamkan gejolak anak-anak muda yang kala itu sedang panas-panasnya. Kembalilah kami ke penginapan dengan agak terburu-buru, karena basah air tawar bukan tujuan kami datang ke pantai. 
               Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, urutan pagi datang setelah malam masih berlaku di tanah sini, dan pagi menjelang siang yang menandakan waktunya untuk segera pulang pun tidak lupa datang. Walaupun sebenarnya kami sedikit berharap kami lupa dengan datangnya sang waktu pulang ini, atau lebih baik sang waktu pulang yang lupa dengan kami. Siapa tau dengan itu kami bisa sedikit naik ke utara, sedikit naik lagi, sedikit lagi dan akhirnya sampai ke Sabang. Tapi sayangnya itu semua tidak terjadi. Kami harus tetap pulang. 
               Pulang, seringkali menjadi hal yang ditunggu-tunggu, tapi tidak jarang juga itu justru hal terakhir bisa diharapkan oleh seseorang. Bukan karena kami harus kembali bertemu Senin dan mencari nafkah lagi, tapi karena dengan pulang dari sini kami justru harus berpisah dengan semua yang rasanya sudah seperti rumah bagi kami.

Lagipula apa sih sebenarnya arti “rumah” itu sendiri?
Apa sesuatu yang tetap kamu setiakan walaupun ada kesempatan?
Atau hanya sekadar tempat yang dirindukan untuk pulang?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas akan terjawab di perjalanan berikutnya.

Sementara nikmati saja dulu rindumu itu.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Melihat Sejarah

"..Melihat langit itu adalah melihat sejarah..."

Kata salah satu guide pada kunjungan terakhir gue ke Bosccha. Dan seketika itu juga gue takjub. Bosccha, dibaca bos-ka bukan bos-sya atau bo-sye, adalah sebuah laboratorium astronomi terbesar di Indonesia. Bertempat di daerah Lembang, Bandung,

kini tempat ini sudah menjadi kepemilikan Institut Teknologi Bandung. Dan tentu saja sekarang telah diokupansi oleh jurusan Astronomi dari almamater yang sama. Baru-baru ini gue berkesempatan untuk studi tur kesana. Yah ga studi tur sih sebenenrnya. Tur aja.

Karena kemarin gue ga cuma sekedar dateng dan foto-foto dihalamannya aja. Tapi juga turut serta dalam tur pengenalan Laboratorium Observasi Bosccha, melihat sejarah, mengikuti simulasi dan materi singkat tentang alam semesta juga ikut mengintip langit melalui teleskop-teleskop yang ada disana.

Mengunjungi dan menjelajahi Bosccha lebih jauh, lebih dalam. Seru sekali. Sekalian napak tilas film Petualangan Sherina juga sebenernya.

Pertama-tama kita akan diajak untuk mengunjungi Teleskop tersbesar yang ada di Laboratorium Observasi Bosccha bernama teleskop Zeiss (dibaca "ceis”). Teleskop ini adalah teleskop refraktor ganda yang memiliki fungsi utama untuk mengamati bintang ganda pada suatu sistem tata surya.

Memiliki dua lensa dengan masing-masing diameter 60cm, dengan berat 12 Ton dan panjang 11 meter. Teleskop ini ditopang oleh kerangka-kerangka besi dan bisa digerakan secara vertikal dan horizontal. Bintang-ganda. BINTANG-GANDA. GILA. Ga setiap hari lo denger istilah “bintang ganda”.

Tapi sayangnya pengunjung umum tidak dapat melihat teleskop ini dioperasikan, apalagi menggunakannya. Hanya para astronom dan peneliti yang boleh menggunakannya. Disini kemudian perlahan timbul penyesalan tentang mengapa dulu sewaktu kuliah tidak tertarik untuk mengambil jurusan astronomi sebagai program studi (walaupun jawabannya kepalang gampang. Karena saya dulu mengambil jurusan sosial ketika di bangku SMA. Well, dan karena nilai kimia saya yang anjlok laksana KRL).

Juga hal lain yang gue inget adalah bahwa dulu Sherina nyium Saddam disini, setelah Saddam asmanya kambuh, dan kemudian Sherina cabut lewat lobang ventilasi. Emang dasar perempuan.

Berikutnya kita diajak untuk mendengarkan presentasi tentang sejarah singkat tentang Bosccha dan simulasi tentang alam semesta. Bosccha, yang awalnya bernama Bosscha Sterrenwacht, didirikan dahulu pada tahun 1923 sampai rampung di tahun 1928 oleh. Lembang sendiri sengaja dipilih karena letaknya yang sesuai untuk pengamatan benda-benda langit karena jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk.

Tujuannya adalah sebagai pusat penelitian keastronomian (di) Indonesia, walaupun bahkan dahulu kosakata “Indonesia” sendiri masih belum tergagas ketika Bosccha dibangun. Dan seiring dengan berjalannya waktu Laboratorium Bosccha diakuisisi oleh Indonesia kemudian jatuh ke angan ITB disekitar tahun 80an.

Kita juga diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan komparasi tentang luasnya alam semesta. Videonya singkat, cuma lima belas menit, tapi sangat berkesan. Kita akan diajak terbang jauh meninggalkan Bumi, jauh menembuh tata surya, naik terus menembus gugus-gugus tata surya, jauh sampai ke bagian pinggiran alam semesta yang masih belum dipetakan. Dramatis banget asli. Cukup untuk membuat seorang laki-laki dewasa berkaca-kaca. Sayup-sayup gue juga denger suara sesenggukan dari Bapak yang duduk di belakang gue. Nangis kayaknya, tapi ga nangis-nangis amat sih.

Kemudian dalam bagian tur yang terakhir para peserta diberikan kesempatan untuk mengintip Mars, Jupiter dan Saturnus melalui teleskop-teleskop portabel dan Teleskop Bamberg yang bisa kita gunakan untuk meneropong.

Dan seperti yang telah diperkirakan, antusiasme para peserta untuk sekedar menjajal teleskop-teleskop tersebut sangat tinggi. Antrean di setiap teleskop sudah mengular panjang layaknya antrean di pintu tol cikampek kala musim mudik. Tua, muda semuanya turut mengantre dengan gembira namun tetap tertib. Kebetulan juga langit sedang nampak cerah jadi proses peneropongan bisa berjalan lancar.

Mars kelihatan gagah dengan warna merah-oranye dominan yang menyala dengan sangat jeli. Jupiter nampak menawan gradasi garis-garis krem-putih, begitu pula dengan mata pusaran tornadonya yang abadi. Dan seperti biasa, Saturnus tetap terlihat elegan dan magis dengan cincinya yang melingkar diagonal.

Buat gue, kunjungan ini bukannya hanya untuk menghilangkan dahaga akan pengetahuan tentang kelangitan. Tapi juga sebagai ajang untuk ziarah ke pusat astronomi terbesar di Indonesia. Juga sebagai sarana untuk selalu mengingatkan manusia bahwa kita layaknya hanya debu mikroskopik di tengah belantara semesta.

Tur sendiri selesai di sekitar pukul 8 malam waktu sekitar. Kondisi jalan udah bener-bener gelap. Langit cerah, jadi sebelum balik kita sempet nongkrong sedikit, tiduran sambil ngeliatin langit yang pelan-pelan semakin gelap, semakin dingin, semakin tersesat di antariksa.
Teleskop Zeiss. Credit: Perdana





Teleskop Bamberg. Credit: Perdana















  

Rabu, 03 Agustus 2016

Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 03 - Bagian Satu

Yogyakarta, Mei 2013
Kami sempat menghubungi teman kami di Solo bahwa kami sedang dalam perjalanan menuju ke YOGYAKARTA. Tanpa pikir panjang, ia langsung memesan tiket kereta menuju YOGYAKARTA untuk bertemu dengan kami. 

Mungkin tidak cukup waktu semalam untuk bisa membuat seseorang bisa menjadi percaya satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga dengan kami. Sedari di Kota Depok masih diperbolehkan untuk makan dengan tangan kiri, kami sudah mengenalnya. Bukan perkenalan formal atau ketidaksengajaan, tetapi lebih kepada hal yang tidak bisa dihindarkan. Bukan Tuhan menjegal kami dengan menghadirkannya, tetapi siapa yang tidak butuh bimbingan belajar saat Ujian Nasional Tingkat SMP mulai diperbincangkan orang tua kami. Disanalah Tuhan menjegal kami. Ada ungkapan dari Negeri Cina jaman dahulu yang berbunyi 'bila kau punya sepuluh orang istri wanita cantik, maka yang kesebelas pastilah laki-laki'. Tidak sampai ke Negeri Cina, hal itu terjadi di kelas bimbingan belajar kami. Kelas kami penuh dengan gadis - gadis tak bertuan, namun selalu ada ruang kosong yang bisa ditempati oleh 'istri kesebelas' itu. Itu yang terjadi.

Sembari menunggu orang perantauan Solo itu sampai ke YOGYAKARTA, kami mencari tempat berteduh yang nyaman untuk hati dan pikiran (re: dompet) kami di sekitaran Jalan Malioboro. Saat kami berempat berniat untuk check-in, orang dari penginapan itu mengungkapkan kebingungannya tentang kami berempat yang tidak membawa wanita satupun. Kami semua ingin sekali meladeni kebingungan orang itu. Layaknya 'dalam tiap wanita selalu ada sisi binatang', sama halnya dengan 'dalam tiap pria selalu ada sisi wanita'. Sehingga tiap tiap kami sudah membawa wanita yang orang itu bingungkan. Tiap tiap kami bahkan mengenal wanita dalam diri kami dengan baik, sampai sampai tidak bisa orang itu melihatnya pada pertemuan pertama. Orang itu tidak tahu saat kita memilih penginapannya, kami menggunakan wanita wanita dalam diri kami untuk memilih. Wanita wanita dalam diri kamilah yang membuat kamar di penginapannya menjadi terisi. Jadi, jika orang itu masih mempertanyakan dimana wanita wanita yang seharusnya atau mungkin biasanya dibawa ke penginapannya, maka biar wanita wanita dalam diri kami yang akan menjelaskan. Tetapi saat itu kami hanya tertawa ringan dan langsung menuju kamar. Pria pria dalam diri kami sudah lelah menanti kasur selama 12 jam. Tak ada waktu untuk wanita wanita dalam diri kami. Tidak akan pernah. Black Hawk Down! Band of Brother! Windtalkers!


Depok, Agustus 2016
Pernah ada dalam garis waktu kami dimana suara tembakau terbakar menjadi pemeran utama dalam malam malam di Depok. Jauh sebelum himbauan gadis tiket di Hari Senin membuat kami berlari untuk memaksa masuk, pernah ada kartu as yang menampar muka muka para pecundang di tengah malam. Jauh sebelum percaya bahwa dua foto saja sudah cukup untuk menentukan tanggal perkawinan, pernah ada kayuhan sepeda penuh gelora demi membakar Cerbera manghas. Benar adanya bahwa dulu waktu bukan menjadi penanda kami untuk berhenti atau memulai. Bahwa kami belum sepakat dengan konsep waktu sebagai penanda agar bertemu bisa dilakukan. Meski konsep waktu hanya ada dan bermakna pada dimensi dimana manusia hidup, namun persepsi kami dengan manusia belum sama. Bukan kami tidak hidup, hanya muda dan buta.


Yogyakarta, Mei 2013
Sajian teh manis hangat sebagai minuman selamat datang rasanya kurang untuk mengisi perut kosong kami, sehingga kami mencari tempat makan di sepanjang jalan Malioboro. Dengan situasi Jalan Malioboro yang sangat ramai wisatawan dan juga penjual makanan, agaknya kami cukup sulit untuk memilih penjual yang beruntung. Ditambah dengan wanita wanita yang sedaritadi melintas, makin membuat rumit kondisi pemilihan tempat makan ini. Hukum mencari makan di daerah seperti Jalan Malioboro untuk kami sebenarnya cukup sederhana, asalkan sang penjaja makanan menganut asas murah, banyak, enak, dan tahan lama, kita akan makan disana. Tetapi justru disana letak kerumitannya.

Satu catatan jika makan di sekitar Jalan Malioboro yaitu saat para musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu, merintih sendiri, ditelan deru kotamu. Agaknya para musisi jalanan ini percaya bahwa semua pelancong disana punya tangan yang ringan dan menaruh harapan lebih kepada kami dalam berbagi. Kebiasaan memberikan tangan di ibukota bukan menjadi halangan mereka, entah untuk sekedar mengisi waktu atau melangsungkan hidupnya. Bukan kami tidak mau berbagi, namun kadang santapan nusantara tidak melulu harus diiringi dengan musik bukan? Mungkin karena dahulu Ibu Sisca Soewitomo saat memasak pada acara 'Aroma' selalu diiringi musik yang membuat setiap masakannya menarik, diluar fakta bahwa suaranya memang sudah menarik.

Saat menikmati YOGYAKARTA yang luas berakhir hanya di sepanjang Jalan Malioboro. Fakta bahwa kami baru saja selesai berkendara selama dua belas jam dan besok harus kami ulang lagi, bikin nafsu kami untuk menikmati hari di YOGYAKARTA tidak sebesar kota ini. Semua hal yang bisa kami lakukan untuk menikmati kota ini dengan usaha seminimal mungkin kami lakukan. Mendatangkan mereka yang kami kenal dan sedang berada atau selalu ada di Kota ini menjadi pilihan terakhir, atau malah sedari awal rencana perjalanan ini dibuat. Dari Stasiun Tugu hingga Benteng Vredeburg kami jalan, foto, jalan, foto, foto bareng pengamen, (menyamar secara tidak sengaja) menjadi pengemis, dan mendapat kecup hangat dari teman wanita kami. Masih terasa basah sampai sekarang. Memangmia menarik sekali.