“Gue pengen ke Sumatera! Gue
pengen menginjakkan kaki di tanah pulau paling besar di sebelah barat Republik
Indonesia. Dan gue nggak mau melakukannya dengan alasan formal” Setidaknya
itulah yang ada di pikiran salah satu teman grgskrs kita selama beberapa tahun
terakhir. Nggak cuma mau menginjakkan kaki di tanah Sumatera, tapi juga ingin
membawa pulang beberapa genggam pasir pantai dari sana yang sebelumnya sudah
dikotori candaan-candaan kotor kami dan sudah diterangi cahaya lilin yang menghantarkan
pada pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah sering ingin ditanyakan tapi
belum sempat kami lontarkan. Belum lagi beberapa keceplosan yang bisa bikin
seseorang mendengarkan “Terlanjur Sayang” satu bulan penuh tanpa bosan. Jadi
gini….
Setelah
sebelumnya gagal karena alasan izin dan persiapan yang kurang baik, kali ini
kami berhasil membawa kru yang banyaknya sama dengan starting line-up Madura United kalo mau tanding, yak, 11 orang yang
beberapa dari mereka mungkin adalah reinkarnasi ayam juara adu kokok di
kehidupan sebelumnya. Beberapa orang gagal ikut karena alasan yang
bermacam-macam, kami berasumsi mereka belum siap hatinya untuk merasakan
pedihnya diterangi jiwanya oleh api lilin di bawah bulan langit Sumatera.
Setelah semua persiapan disiapkan, doa agar selamat di perjalanan dan agar
teman-kami segera lulus dikumandangkan, berangkatlah kami pada Jumat malam, 15
Juli 2016 (yang rencananya) pukul 7 malam, tapi ya gitu.
Perjalanan
malam selalu menjadi tantangan bagi para pengemudi, tapi saking percayanya kami
dengan mereka yang sepertinya sudah menenggak beberapa botol minuman energi
ditambah obat sariawan oplosan sebelum berangkat, beberapa penumpang pun
tertidur. Ditemani playlist yang
beberapa lagu di antaranya adalah tema dari satu-dua kejadian di masa lalu
untuk beberapa dari kami. Perjalanan darat-laut-darat berhasil ditempuh kurang
dari 12 jam yang telah diestimasi sebelumnya. Tanah Sumatera berhasil dijajaki.
Sesampainya di tempat tujuan, kami segera
mencari pak Yanto, seorang laki-laki seperempat atau sepertiga baya yang kami
temui dari hasil penjelajahan internet dan selama ini hanya kami kenal
suaranya. Bertemu Pak Yanto sungguh membuat hati damai dan merasa diayomi. Bapak
yang mempunyai gaya rambut berekor dipadu dengan kulitnya yang kecoklatan
seakan mengatakan bahwa dia sudah hafal betul semua tikungan-tikungan di Selat
Sunda. Awesome.
Ke-awesome-an bapak bertubuh gempal ini
semakin menjadi di luar batas kami dapat mengagumi seseorang ketika beliau
mengajak 11 orang kelelahan yang baru saja mengarungi 3 provinsi selama
setengah hari dengan akses multimoda ini untuk pergi snorkeling, tepat ketika orang pertama dari kelompok kami menjabat
tangan beliau dan memperkenalkan diri. Dengan diiming-imingi kopi panas dan beberapa
lirik lagu Om Iwan Fals yang tak kalah panasnya, Pak Yanto berhasil merayu dan
memunculkan adrenaline kami kembali ke
permukaan. Baiklah kalau itu mau bapak, gas.
Setelah menyelam
di beberapa spot dangkal berair jernih dan setelah puas
ngintipin terumbu karang dan anemone laut beserta ikan-ikan yang mendirikan
pemukiman di sekitarnya, acara dilanjutkan dengan makan siang di Pulau Pahawang
Kecil. Pulau yang lumayan sering muncul di google
kalo kita ngetik “Pulau Pahawang” terus kita klik “images” itu kini jadi meja makan kami. Makan siang dengan lauk
ayam goreng yang entah semasa hidupnya mereka berdomisili di mana, yang jelas mereka
dinikmati di Pulau Pahawang Kecil saat mereka sudah tidak lagi bisa berkokok.
Beberapa teman kami menangis saat makan.
Saat matahari
sedang tinggi-tingginya, kami menolak ajakan Pak Yanto untuk kembali menyelam, beliau
pun sudah tidak terlalu persuasif seperti sebelumnya melihat kami sudah
bergeletakan sembarangan setelah makan siang. Sauh kapal kayu dengan
penyeimbang bambu di kedua sisinya pun diangkat dan dilayarkanlah kami ke pulau
yang lain lagi untuk beristirahat di penginapan yang sudah dipesan saat kami
masih berada di provinsi lain. Tanpa pikir panjang, kami tertidur, dan
terbangun disambut senjanya Sumatera.
Pagi, siang, ngopi,
lalu malam. Ternyata urutan ini masih berlaku sama di tanah Sumatera. Dan malam
di sana tak jauh berbeda dengan malam-malam yang biasa kami lalui di
pantai-pantai sebelumnya. Kenapa? Gelap? Bukan, bukan itu maksudnya. Tapi duduk melingkari sebuah lilin, di atas
pasir, di bawah langit, di sisi laut. Mendirikan majelis internal yang tugasnya
melakukan kajian yang isinya 80% tentang asmara anak muda, 10% tentang
pengakuan, dan sisanya tentang politik, ekonomi, dan budaya. Tapi biasanya sih
yang sisa-sisa gitu nggak baik. (Pesan ini disampaikan khusus untuk seseorang)
Majelis
lingkaran perasaan tersebut nggak seperti biasanya, ditemani kopi hangat yang
diseduh langsung di pantai oleh salah satu teman kami. Kopinya pun spesial, karena
kopi yang kami sulangkan malam itu tidak lain adalah kopi Lintong yang asalnya
juga dari tanah Sumatera, tepatnya dari Tapanuli, Sumatera Utara. Kopi yang
juga menemani kami menguak beberapa rahasia dan meluruskan perasaan yang selama
ini mungkin disembunyikan atau belum berani diungkapkan. Satu hal lagi yang
membuat perbedaan adalah hujan yang tiba-tiba turun memadamkan gejolak
anak-anak muda yang kala itu sedang panas-panasnya. Kembalilah kami ke
penginapan dengan agak terburu-buru, karena basah air tawar bukan tujuan kami
datang ke pantai.
Seperti
yang sudah dibilang sebelumnya, urutan pagi datang setelah malam masih berlaku
di tanah sini, dan pagi menjelang siang yang menandakan waktunya untuk segera
pulang pun tidak lupa datang. Walaupun sebenarnya kami sedikit berharap kami
lupa dengan datangnya sang waktu pulang ini, atau lebih baik sang waktu pulang
yang lupa dengan kami. Siapa tau dengan itu kami bisa sedikit naik ke utara,
sedikit naik lagi, sedikit lagi dan akhirnya sampai ke Sabang. Tapi sayangnya
itu semua tidak terjadi. Kami harus tetap pulang.
Pulang,
seringkali menjadi hal yang ditunggu-tunggu, tapi tidak jarang juga itu justru
hal terakhir bisa diharapkan oleh seseorang. Bukan karena kami harus kembali
bertemu Senin dan mencari nafkah lagi, tapi karena dengan pulang dari sini kami
justru harus berpisah dengan semua yang rasanya sudah seperti rumah bagi kami.
Lagipula apa sih sebenarnya arti “rumah”
itu sendiri?
Apa sesuatu yang tetap kamu
setiakan walaupun ada kesempatan?
Atau hanya sekadar tempat yang
dirindukan untuk pulang?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di
atas akan terjawab di perjalanan berikutnya.
Sementara nikmati saja dulu
rindumu itu.


