“Waktu memang jahanam,
kota kelewat kejam,
dan pekerjaan menyita harapan.
Hari-hari berulang,
diriku kian hilang.”
Sepenggal
lirik lagu dari sebuah band dari Surabaya, Silampukau yang berjudul Sambat
Omah, atau bila ingin diartikan dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih
“mengeluh tentang rumah”. Sebuah lagu yang menceritakan tentang kerinduan tentang kampung halaman yang baru penulis
temukan beberapa minggu sebelum tulisan ini dibuat. Sampai pada lirik “demi
Tuhan atau demi setan, aku ingin cepat pulang”, sang penyair lagu akhirnya
menggambarkan bahwa ia akan melakukan apa saja untuk bisa segera kembali ke
rumah.
Merantau
sebenarnya merupakan hal yang lumrah untuk orang-orang yang ingin (atau harus) mencari
sesuatu. Entah itu ilmu, rezeki, atau bahkan jati diri. Sesuatu yang pada
awalnya menyenangkan pada tahap perencanaan karena hal-hal baru yang
diekspektasikan. Meninggalkan keluarga dan orang-orang yang sudah dianggap
keluarga, meninggalkan rumah di kampung halaman yang sudah dihafal betul seluk
beluknya. Seperti pintu mana yang harus diangkat saat dibuka agar tidak
berbunyi. Semuanya terasa baik-baik saja sampai datang waktunya kewajiban yang
harus diemban oleh anak-anak muda yang segera menjelang dewasa. Dan kewajiban
itu ditawarkan di tanah orang. Demi mencari apa yang harus dicari untuk
melengkapi hidup yang sebenarnya tidak akan pernah lengkap
Perantauan
yang berjarak 2 jam kereta api atau belasan jam ditambah beberapa kali transit
pesawat terbang tidak terlalu berbeda. Selama kamar yang dipakai untuk
memejamkan mata setiap malam mempunyai ikatan kontrak dan si tuan tanah selalu
mengingatkan untuk dibayar tepat waktu setiap bulan, pejaman matamu tidak akan
senyaman di rumahmu sendiri. Selama masih memilih apa yang ingin dimakan dan
bukannya memakan apa saja yang telah ibumu masakkan, lidah selalu bisa merasakan perbedaannya. Seperti
halnya mencoba menanamkan pikiran di kepala anda bahwa tanah rantau itu
sekarang harus disebut rumah, tidak akan berhasil.
Lelah dan
rindu tentu bukan perpaduan yang baik untuk memulai hari. Perasaan yang
didapat saat yang jauh dari rumah membuka mata untuk menunaikan kewajibannya,
dan mereka sadar mereka tidak berada di tempat yang sama seperti waktu mereka
dibangunkan di pagi hari oleh orang tuanya untuk sekolah semasa kecil. “Everything is restless until it comes home”,
sebuah kutipan dari John Bate yang pernah penulis baca dan amini setiap
katanya. Beristirahat tentu saja
mempunyai makna yang berbeda saat berada di rumah. Berbeda dengan sekadar
merebahkan diri menyiapkan hati untuk hari esok, melakukan kegiatan yang seakan
itu-itu saja, dan bertemu dengan orang-orang yang juga meninggalkan hatinya
entah di mana.
Begitupun
dengan yang di rumah namun hatinya dititipkan kepada yang jauh dari rumah. Yang
ada di rumah tetapi tidak pulang, karena “pulang”-nya sedang jauh. Yang setiap
matahari terbit mencemaskan apakah yang di sana baik-baik saja, yang harus
terlebih dulu mencocokkan jam untuk melontarkan ucapan selamat pagi, atau
mungkin yang sekadar ingin melakukan hal remeh yang biasa mereka lakukan saat mereka
masih bisa melihat wajah masing-masing saat tertawa bersama. Keremehan yang
ingin dimulai dengan ucapan “akhirnya kau pulang juga”.
Well, dengan semua kekurangan dan beberapa kelebihan di tempat rantau,
kewajiban tetap harus dilaksanakan, tanggung jawab harus selalu dipenuhi. Suatu
sore nanti mereka akan kembali, menyesap lagi kopi yang anda seduh. Duduk di
beranda sembari mendengarkan ceritamu tentang apa saja yang mereka lewatkan. Teruslah
saja berkarya dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang baik sampai waktu
bertemu itu tiba. Menunggu hanya memberatkan
hati, dan menanti cuma meninggikan ekspektasi. Titipkan saja pada mereka, dan
percaya saja, mereka pergi sangat jauh hanya untuk pulang kepadamu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar