Kamis, 01 September 2016

Pergi Jauh

“Waktu memang jahanam,
kota kelewat kejam,
dan pekerjaan menyita harapan.
Hari-hari berulang,
diriku kian hilang.”

Sepenggal lirik lagu dari sebuah band dari Surabaya, Silampukau yang berjudul Sambat Omah, atau bila ingin diartikan dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih “mengeluh tentang rumah”. Sebuah lagu yang menceritakan tentang kerinduan  tentang kampung halaman yang baru penulis temukan beberapa minggu sebelum tulisan ini dibuat. Sampai pada lirik “demi Tuhan atau demi setan, aku ingin cepat pulang”, sang penyair lagu akhirnya menggambarkan bahwa ia akan melakukan apa saja untuk bisa segera kembali ke rumah.

Merantau sebenarnya merupakan hal yang lumrah untuk orang-orang yang ingin (atau harus) mencari sesuatu. Entah itu ilmu, rezeki, atau bahkan jati diri. Sesuatu yang pada awalnya menyenangkan pada tahap perencanaan karena hal-hal baru yang diekspektasikan. Meninggalkan keluarga dan orang-orang yang sudah dianggap keluarga, meninggalkan rumah di kampung halaman yang sudah dihafal betul seluk beluknya. Seperti pintu mana yang harus diangkat saat dibuka agar tidak berbunyi. Semuanya terasa baik-baik saja sampai datang waktunya kewajiban yang harus diemban oleh anak-anak muda yang segera menjelang dewasa. Dan kewajiban itu ditawarkan di tanah orang. Demi mencari apa yang harus dicari untuk melengkapi hidup yang sebenarnya tidak akan pernah lengkap

Perantauan yang berjarak 2 jam kereta api atau belasan jam ditambah beberapa kali transit pesawat terbang tidak terlalu berbeda. Selama kamar yang dipakai untuk memejamkan mata setiap malam mempunyai ikatan kontrak dan si tuan tanah selalu mengingatkan untuk dibayar tepat waktu setiap bulan, pejaman matamu tidak akan senyaman di rumahmu sendiri. Selama masih memilih apa yang ingin dimakan dan bukannya memakan apa saja yang telah ibumu masakkan,  lidah selalu bisa merasakan perbedaannya. Seperti halnya mencoba menanamkan pikiran di kepala anda bahwa tanah rantau itu sekarang harus disebut rumah, tidak akan berhasil.

Lelah dan rindu tentu bukan perpaduan yang baik untuk memulai hari. Perasaan yang didapat saat yang jauh dari rumah membuka mata untuk menunaikan kewajibannya, dan mereka sadar mereka tidak berada di tempat yang sama seperti waktu mereka dibangunkan di pagi hari oleh orang tuanya untuk sekolah semasa kecil. “Everything is restless until it comes home”, sebuah kutipan dari John Bate yang pernah penulis baca dan amini setiap katanya. Beristirahat  tentu saja mempunyai makna yang berbeda saat berada di rumah. Berbeda dengan sekadar merebahkan diri menyiapkan hati untuk hari esok, melakukan kegiatan yang seakan itu-itu saja, dan bertemu dengan orang-orang yang juga meninggalkan hatinya entah di mana.

Begitupun dengan yang di rumah namun hatinya dititipkan kepada yang jauh dari rumah. Yang ada di rumah tetapi tidak pulang, karena “pulang”-nya sedang jauh. Yang setiap matahari terbit mencemaskan apakah yang di sana baik-baik saja, yang harus terlebih dulu mencocokkan jam untuk melontarkan ucapan selamat pagi, atau mungkin yang sekadar ingin melakukan hal remeh yang biasa mereka lakukan saat mereka masih bisa melihat wajah masing-masing saat tertawa bersama. Keremehan yang ingin dimulai dengan ucapan “akhirnya kau pulang juga”.

Well, dengan semua kekurangan dan beberapa kelebihan di tempat rantau, kewajiban tetap harus dilaksanakan, tanggung jawab harus selalu dipenuhi. Suatu sore nanti mereka akan kembali, menyesap lagi kopi yang anda seduh. Duduk di beranda sembari mendengarkan ceritamu tentang apa saja yang mereka lewatkan. Teruslah saja berkarya dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang baik sampai waktu bertemu itu tiba.  Menunggu hanya memberatkan hati, dan menanti cuma meninggikan ekspektasi. Titipkan saja pada mereka, dan percaya saja, mereka pergi sangat jauh hanya untuk pulang kepadamu lagi.





Rabu, 24 Agustus 2016

#GRGSKRSGSTSMTR

“Gue pengen ke Sumatera! Gue pengen menginjakkan kaki di tanah pulau paling besar di sebelah barat Republik Indonesia. Dan gue nggak mau melakukannya dengan alasan formal” Setidaknya itulah yang ada di pikiran salah satu teman grgskrs kita selama beberapa tahun terakhir. Nggak cuma mau menginjakkan kaki di tanah Sumatera, tapi juga ingin membawa pulang beberapa genggam pasir pantai dari sana yang sebelumnya sudah dikotori candaan-candaan kotor kami dan sudah diterangi cahaya lilin yang menghantarkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah sering ingin ditanyakan tapi belum sempat kami lontarkan. Belum lagi beberapa keceplosan yang bisa bikin seseorang mendengarkan “Terlanjur Sayang” satu bulan penuh tanpa bosan. Jadi gini….
               Setelah sebelumnya gagal karena alasan izin dan persiapan yang kurang baik, kali ini kami berhasil membawa kru yang banyaknya sama dengan starting line-up Madura United kalo mau tanding, yak, 11 orang yang beberapa dari mereka mungkin adalah reinkarnasi ayam juara adu kokok di kehidupan sebelumnya. Beberapa orang gagal ikut karena alasan yang bermacam-macam, kami berasumsi mereka belum siap hatinya untuk merasakan pedihnya diterangi jiwanya oleh api lilin di bawah bulan langit Sumatera. Setelah semua persiapan disiapkan, doa agar selamat di perjalanan dan agar teman-kami segera lulus dikumandangkan, berangkatlah kami pada Jumat malam, 15 Juli 2016 (yang rencananya) pukul 7 malam, tapi ya gitu.
               Perjalanan malam selalu menjadi tantangan bagi para pengemudi, tapi saking percayanya kami dengan mereka yang sepertinya sudah menenggak beberapa botol minuman energi ditambah obat sariawan oplosan sebelum berangkat, beberapa penumpang pun tertidur. Ditemani playlist yang beberapa lagu di antaranya adalah tema dari satu-dua kejadian di masa lalu untuk beberapa dari kami. Perjalanan darat-laut-darat berhasil ditempuh kurang dari 12 jam yang telah diestimasi sebelumnya. Tanah Sumatera berhasil dijajaki.
 Sesampainya di tempat tujuan, kami segera mencari pak Yanto, seorang laki-laki seperempat atau sepertiga baya yang kami temui dari hasil penjelajahan internet dan selama ini hanya kami kenal suaranya. Bertemu Pak Yanto sungguh membuat hati damai dan merasa diayomi. Bapak yang mempunyai gaya rambut berekor dipadu dengan kulitnya yang kecoklatan seakan mengatakan bahwa dia sudah hafal betul semua tikungan-tikungan di Selat Sunda. Awesome.
Ke-awesome-an bapak bertubuh gempal ini semakin menjadi di luar batas kami dapat mengagumi seseorang ketika beliau mengajak 11 orang kelelahan yang baru saja mengarungi 3 provinsi selama setengah hari dengan akses multimoda ini untuk pergi snorkeling, tepat ketika orang pertama dari kelompok kami menjabat tangan beliau dan memperkenalkan diri. Dengan diiming-imingi kopi panas dan beberapa lirik lagu Om Iwan Fals yang tak kalah panasnya, Pak Yanto berhasil merayu dan memunculkan adrenaline kami kembali ke permukaan. Baiklah kalau itu mau bapak, gas.
Setelah menyelam di beberapa spot  dangkal berair jernih dan setelah puas ngintipin terumbu karang dan anemone laut beserta ikan-ikan yang mendirikan pemukiman di sekitarnya, acara dilanjutkan dengan makan siang di Pulau Pahawang Kecil. Pulau yang lumayan sering muncul di google kalo kita ngetik “Pulau Pahawang” terus kita klik “images” itu kini jadi meja makan kami.  Makan siang dengan lauk ayam goreng yang entah semasa hidupnya mereka berdomisili di mana, yang jelas mereka dinikmati di Pulau Pahawang Kecil saat mereka sudah tidak lagi bisa berkokok. Beberapa teman kami menangis saat makan.
Saat matahari sedang tinggi-tingginya, kami menolak ajakan Pak Yanto untuk kembali menyelam, beliau pun sudah tidak terlalu persuasif seperti sebelumnya melihat kami sudah bergeletakan sembarangan setelah makan siang. Sauh kapal kayu dengan penyeimbang bambu di kedua sisinya pun diangkat dan dilayarkanlah kami ke pulau yang lain lagi untuk beristirahat di penginapan yang sudah dipesan saat kami masih berada di provinsi lain. Tanpa pikir panjang, kami tertidur, dan terbangun disambut senjanya Sumatera.
Pagi, siang, ngopi, lalu malam. Ternyata urutan ini masih berlaku sama di tanah Sumatera. Dan malam di sana tak jauh berbeda dengan malam-malam yang biasa kami lalui di pantai-pantai sebelumnya. Kenapa? Gelap? Bukan, bukan itu maksudnya.  Tapi duduk melingkari sebuah lilin, di atas pasir, di bawah langit, di sisi laut. Mendirikan majelis internal yang tugasnya melakukan kajian yang isinya 80% tentang asmara anak muda, 10% tentang pengakuan, dan sisanya tentang politik, ekonomi, dan budaya. Tapi biasanya sih yang sisa-sisa gitu nggak baik. (Pesan ini disampaikan khusus untuk seseorang)
Majelis lingkaran perasaan tersebut nggak seperti biasanya, ditemani kopi hangat yang diseduh langsung di pantai oleh salah satu teman kami. Kopinya pun spesial, karena kopi yang kami sulangkan malam itu tidak lain adalah kopi Lintong yang asalnya juga dari tanah Sumatera, tepatnya dari Tapanuli, Sumatera Utara. Kopi yang juga menemani kami menguak beberapa rahasia dan meluruskan perasaan yang selama ini mungkin disembunyikan atau belum berani diungkapkan. Satu hal lagi yang membuat perbedaan adalah hujan yang tiba-tiba turun memadamkan gejolak anak-anak muda yang kala itu sedang panas-panasnya. Kembalilah kami ke penginapan dengan agak terburu-buru, karena basah air tawar bukan tujuan kami datang ke pantai. 
               Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, urutan pagi datang setelah malam masih berlaku di tanah sini, dan pagi menjelang siang yang menandakan waktunya untuk segera pulang pun tidak lupa datang. Walaupun sebenarnya kami sedikit berharap kami lupa dengan datangnya sang waktu pulang ini, atau lebih baik sang waktu pulang yang lupa dengan kami. Siapa tau dengan itu kami bisa sedikit naik ke utara, sedikit naik lagi, sedikit lagi dan akhirnya sampai ke Sabang. Tapi sayangnya itu semua tidak terjadi. Kami harus tetap pulang. 
               Pulang, seringkali menjadi hal yang ditunggu-tunggu, tapi tidak jarang juga itu justru hal terakhir bisa diharapkan oleh seseorang. Bukan karena kami harus kembali bertemu Senin dan mencari nafkah lagi, tapi karena dengan pulang dari sini kami justru harus berpisah dengan semua yang rasanya sudah seperti rumah bagi kami.

Lagipula apa sih sebenarnya arti “rumah” itu sendiri?
Apa sesuatu yang tetap kamu setiakan walaupun ada kesempatan?
Atau hanya sekadar tempat yang dirindukan untuk pulang?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas akan terjawab di perjalanan berikutnya.

Sementara nikmati saja dulu rindumu itu.

Sabtu, 06 Agustus 2016

Melihat Sejarah

"..Melihat langit itu adalah melihat sejarah..."

Kata salah satu guide pada kunjungan terakhir gue ke Bosccha. Dan seketika itu juga gue takjub. Bosccha, dibaca bos-ka bukan bos-sya atau bo-sye, adalah sebuah laboratorium astronomi terbesar di Indonesia. Bertempat di daerah Lembang, Bandung,

kini tempat ini sudah menjadi kepemilikan Institut Teknologi Bandung. Dan tentu saja sekarang telah diokupansi oleh jurusan Astronomi dari almamater yang sama. Baru-baru ini gue berkesempatan untuk studi tur kesana. Yah ga studi tur sih sebenenrnya. Tur aja.

Karena kemarin gue ga cuma sekedar dateng dan foto-foto dihalamannya aja. Tapi juga turut serta dalam tur pengenalan Laboratorium Observasi Bosccha, melihat sejarah, mengikuti simulasi dan materi singkat tentang alam semesta juga ikut mengintip langit melalui teleskop-teleskop yang ada disana.

Mengunjungi dan menjelajahi Bosccha lebih jauh, lebih dalam. Seru sekali. Sekalian napak tilas film Petualangan Sherina juga sebenernya.

Pertama-tama kita akan diajak untuk mengunjungi Teleskop tersbesar yang ada di Laboratorium Observasi Bosccha bernama teleskop Zeiss (dibaca "ceis”). Teleskop ini adalah teleskop refraktor ganda yang memiliki fungsi utama untuk mengamati bintang ganda pada suatu sistem tata surya.

Memiliki dua lensa dengan masing-masing diameter 60cm, dengan berat 12 Ton dan panjang 11 meter. Teleskop ini ditopang oleh kerangka-kerangka besi dan bisa digerakan secara vertikal dan horizontal. Bintang-ganda. BINTANG-GANDA. GILA. Ga setiap hari lo denger istilah “bintang ganda”.

Tapi sayangnya pengunjung umum tidak dapat melihat teleskop ini dioperasikan, apalagi menggunakannya. Hanya para astronom dan peneliti yang boleh menggunakannya. Disini kemudian perlahan timbul penyesalan tentang mengapa dulu sewaktu kuliah tidak tertarik untuk mengambil jurusan astronomi sebagai program studi (walaupun jawabannya kepalang gampang. Karena saya dulu mengambil jurusan sosial ketika di bangku SMA. Well, dan karena nilai kimia saya yang anjlok laksana KRL).

Juga hal lain yang gue inget adalah bahwa dulu Sherina nyium Saddam disini, setelah Saddam asmanya kambuh, dan kemudian Sherina cabut lewat lobang ventilasi. Emang dasar perempuan.

Berikutnya kita diajak untuk mendengarkan presentasi tentang sejarah singkat tentang Bosccha dan simulasi tentang alam semesta. Bosccha, yang awalnya bernama Bosscha Sterrenwacht, didirikan dahulu pada tahun 1923 sampai rampung di tahun 1928 oleh. Lembang sendiri sengaja dipilih karena letaknya yang sesuai untuk pengamatan benda-benda langit karena jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk.

Tujuannya adalah sebagai pusat penelitian keastronomian (di) Indonesia, walaupun bahkan dahulu kosakata “Indonesia” sendiri masih belum tergagas ketika Bosccha dibangun. Dan seiring dengan berjalannya waktu Laboratorium Bosccha diakuisisi oleh Indonesia kemudian jatuh ke angan ITB disekitar tahun 80an.

Kita juga diperlihatkan sebuah video yang menggambarkan komparasi tentang luasnya alam semesta. Videonya singkat, cuma lima belas menit, tapi sangat berkesan. Kita akan diajak terbang jauh meninggalkan Bumi, jauh menembuh tata surya, naik terus menembus gugus-gugus tata surya, jauh sampai ke bagian pinggiran alam semesta yang masih belum dipetakan. Dramatis banget asli. Cukup untuk membuat seorang laki-laki dewasa berkaca-kaca. Sayup-sayup gue juga denger suara sesenggukan dari Bapak yang duduk di belakang gue. Nangis kayaknya, tapi ga nangis-nangis amat sih.

Kemudian dalam bagian tur yang terakhir para peserta diberikan kesempatan untuk mengintip Mars, Jupiter dan Saturnus melalui teleskop-teleskop portabel dan Teleskop Bamberg yang bisa kita gunakan untuk meneropong.

Dan seperti yang telah diperkirakan, antusiasme para peserta untuk sekedar menjajal teleskop-teleskop tersebut sangat tinggi. Antrean di setiap teleskop sudah mengular panjang layaknya antrean di pintu tol cikampek kala musim mudik. Tua, muda semuanya turut mengantre dengan gembira namun tetap tertib. Kebetulan juga langit sedang nampak cerah jadi proses peneropongan bisa berjalan lancar.

Mars kelihatan gagah dengan warna merah-oranye dominan yang menyala dengan sangat jeli. Jupiter nampak menawan gradasi garis-garis krem-putih, begitu pula dengan mata pusaran tornadonya yang abadi. Dan seperti biasa, Saturnus tetap terlihat elegan dan magis dengan cincinya yang melingkar diagonal.

Buat gue, kunjungan ini bukannya hanya untuk menghilangkan dahaga akan pengetahuan tentang kelangitan. Tapi juga sebagai ajang untuk ziarah ke pusat astronomi terbesar di Indonesia. Juga sebagai sarana untuk selalu mengingatkan manusia bahwa kita layaknya hanya debu mikroskopik di tengah belantara semesta.

Tur sendiri selesai di sekitar pukul 8 malam waktu sekitar. Kondisi jalan udah bener-bener gelap. Langit cerah, jadi sebelum balik kita sempet nongkrong sedikit, tiduran sambil ngeliatin langit yang pelan-pelan semakin gelap, semakin dingin, semakin tersesat di antariksa.
Teleskop Zeiss. Credit: Perdana





Teleskop Bamberg. Credit: Perdana















  

Rabu, 03 Agustus 2016

Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 03 - Bagian Satu

Yogyakarta, Mei 2013
Kami sempat menghubungi teman kami di Solo bahwa kami sedang dalam perjalanan menuju ke YOGYAKARTA. Tanpa pikir panjang, ia langsung memesan tiket kereta menuju YOGYAKARTA untuk bertemu dengan kami. 

Mungkin tidak cukup waktu semalam untuk bisa membuat seseorang bisa menjadi percaya satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga dengan kami. Sedari di Kota Depok masih diperbolehkan untuk makan dengan tangan kiri, kami sudah mengenalnya. Bukan perkenalan formal atau ketidaksengajaan, tetapi lebih kepada hal yang tidak bisa dihindarkan. Bukan Tuhan menjegal kami dengan menghadirkannya, tetapi siapa yang tidak butuh bimbingan belajar saat Ujian Nasional Tingkat SMP mulai diperbincangkan orang tua kami. Disanalah Tuhan menjegal kami. Ada ungkapan dari Negeri Cina jaman dahulu yang berbunyi 'bila kau punya sepuluh orang istri wanita cantik, maka yang kesebelas pastilah laki-laki'. Tidak sampai ke Negeri Cina, hal itu terjadi di kelas bimbingan belajar kami. Kelas kami penuh dengan gadis - gadis tak bertuan, namun selalu ada ruang kosong yang bisa ditempati oleh 'istri kesebelas' itu. Itu yang terjadi.

Sembari menunggu orang perantauan Solo itu sampai ke YOGYAKARTA, kami mencari tempat berteduh yang nyaman untuk hati dan pikiran (re: dompet) kami di sekitaran Jalan Malioboro. Saat kami berempat berniat untuk check-in, orang dari penginapan itu mengungkapkan kebingungannya tentang kami berempat yang tidak membawa wanita satupun. Kami semua ingin sekali meladeni kebingungan orang itu. Layaknya 'dalam tiap wanita selalu ada sisi binatang', sama halnya dengan 'dalam tiap pria selalu ada sisi wanita'. Sehingga tiap tiap kami sudah membawa wanita yang orang itu bingungkan. Tiap tiap kami bahkan mengenal wanita dalam diri kami dengan baik, sampai sampai tidak bisa orang itu melihatnya pada pertemuan pertama. Orang itu tidak tahu saat kita memilih penginapannya, kami menggunakan wanita wanita dalam diri kami untuk memilih. Wanita wanita dalam diri kamilah yang membuat kamar di penginapannya menjadi terisi. Jadi, jika orang itu masih mempertanyakan dimana wanita wanita yang seharusnya atau mungkin biasanya dibawa ke penginapannya, maka biar wanita wanita dalam diri kami yang akan menjelaskan. Tetapi saat itu kami hanya tertawa ringan dan langsung menuju kamar. Pria pria dalam diri kami sudah lelah menanti kasur selama 12 jam. Tak ada waktu untuk wanita wanita dalam diri kami. Tidak akan pernah. Black Hawk Down! Band of Brother! Windtalkers!


Depok, Agustus 2016
Pernah ada dalam garis waktu kami dimana suara tembakau terbakar menjadi pemeran utama dalam malam malam di Depok. Jauh sebelum himbauan gadis tiket di Hari Senin membuat kami berlari untuk memaksa masuk, pernah ada kartu as yang menampar muka muka para pecundang di tengah malam. Jauh sebelum percaya bahwa dua foto saja sudah cukup untuk menentukan tanggal perkawinan, pernah ada kayuhan sepeda penuh gelora demi membakar Cerbera manghas. Benar adanya bahwa dulu waktu bukan menjadi penanda kami untuk berhenti atau memulai. Bahwa kami belum sepakat dengan konsep waktu sebagai penanda agar bertemu bisa dilakukan. Meski konsep waktu hanya ada dan bermakna pada dimensi dimana manusia hidup, namun persepsi kami dengan manusia belum sama. Bukan kami tidak hidup, hanya muda dan buta.


Yogyakarta, Mei 2013
Sajian teh manis hangat sebagai minuman selamat datang rasanya kurang untuk mengisi perut kosong kami, sehingga kami mencari tempat makan di sepanjang jalan Malioboro. Dengan situasi Jalan Malioboro yang sangat ramai wisatawan dan juga penjual makanan, agaknya kami cukup sulit untuk memilih penjual yang beruntung. Ditambah dengan wanita wanita yang sedaritadi melintas, makin membuat rumit kondisi pemilihan tempat makan ini. Hukum mencari makan di daerah seperti Jalan Malioboro untuk kami sebenarnya cukup sederhana, asalkan sang penjaja makanan menganut asas murah, banyak, enak, dan tahan lama, kita akan makan disana. Tetapi justru disana letak kerumitannya.

Satu catatan jika makan di sekitar Jalan Malioboro yaitu saat para musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu, merintih sendiri, ditelan deru kotamu. Agaknya para musisi jalanan ini percaya bahwa semua pelancong disana punya tangan yang ringan dan menaruh harapan lebih kepada kami dalam berbagi. Kebiasaan memberikan tangan di ibukota bukan menjadi halangan mereka, entah untuk sekedar mengisi waktu atau melangsungkan hidupnya. Bukan kami tidak mau berbagi, namun kadang santapan nusantara tidak melulu harus diiringi dengan musik bukan? Mungkin karena dahulu Ibu Sisca Soewitomo saat memasak pada acara 'Aroma' selalu diiringi musik yang membuat setiap masakannya menarik, diluar fakta bahwa suaranya memang sudah menarik.

Saat menikmati YOGYAKARTA yang luas berakhir hanya di sepanjang Jalan Malioboro. Fakta bahwa kami baru saja selesai berkendara selama dua belas jam dan besok harus kami ulang lagi, bikin nafsu kami untuk menikmati hari di YOGYAKARTA tidak sebesar kota ini. Semua hal yang bisa kami lakukan untuk menikmati kota ini dengan usaha seminimal mungkin kami lakukan. Mendatangkan mereka yang kami kenal dan sedang berada atau selalu ada di Kota ini menjadi pilihan terakhir, atau malah sedari awal rencana perjalanan ini dibuat. Dari Stasiun Tugu hingga Benteng Vredeburg kami jalan, foto, jalan, foto, foto bareng pengamen, (menyamar secara tidak sengaja) menjadi pengemis, dan mendapat kecup hangat dari teman wanita kami. Masih terasa basah sampai sekarang. Memangmia menarik sekali.




 

Minggu, 19 Juli 2015

Referensi Film Korea Pilihan Keluarga Volume 02

Perjalanan kami mulai pada malam hari, 24 Mei 2013. YOGYAKARTA. Itulah tujuan kami, cinta kami, selera kami, semua yang keburu pergi tapi belum sempat kami lepas. Kesepakatan bagaimana kami memulai perjalanan ini sudah didapat pekan kemarin, namun semuanya masih samar samar layaknya Japan Adult Video atau black hole milik Dita. Black hole milik Dita sebenarnya masih berupa misteri samar samar karena tidak seorang pun yang pernah melihatnya secara langsung. Gosip kacangan mulai berkembang setelah ballpoint salah satu teman kami lenyap entah kemana setelah terjatuh ke kolong meja dan kebetulan Dita duduk dibelakangnya. Kami yakin jika memang ada orang yang pernah coba coba untuk melihat black hole milik Dita, ia sudah tak ada di dunia ini lagi. Tapi nyatanya kami naik kelas tujuh dengan lengkap.


Kembali ke perjalanan spiritual kami ke YOGYAKARTA. Bertolak bareng bareng dengan sekitar 200 juta warga brengsek Jakarta yang juga bikin macet atau mungkin warga norak Bekasi yang baru pada pulang kerja, mulai di Bekasi Barat, kami baru bisa memacu Starlet. Setelah itu bebas hambatan hingga Cileunyi. ada kejadian aneh terjadi di sekitaran Tol Cipularang. Mobil kami tiba tiba mati sendiri di tengah jalan dalam situasi tidak macet, hujan deras seketika dan penumpangnya sedang teriak teriak lantang i want you! i need you! i love you! Sungguh aneh emang tapi untungnya langsung bisa dihidupkan kembali. Kami menduga akibat kegaduhan kami teriak i want you! i need you! i love you! Padahal tak sampainya suara teriakan i want you! i need you! i love you! terdengar ke mobil seberang.


Terus jalan kami punya mobil hingga jam menunjuk pukul lima pagi untuk jadi waktu yang kami lihat. Saat itu kami baru sampai di Banjar, sebuah kota di Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan  Jawa Tengah, untuk melipir melaksanakan salah satu  perintah Tuhan. Kelar kami bersipuh di hadapan Sang Maha Pencipta, Maha Esa, Maha Kuasa, dan suara suara penyerumu telah diperdengarkan, maka ampunilah dosaku. Amin. Jadi, ada hal yang sangat kami perhatikan saat kami pindah dari wilayah kekuasaan Ahmad Heryawan menuju wilayah kekuasaan Ganjar Pranopo (NB: Saat itu beliau belum menjadi  gubernur jenderal, namun saya lupa siapa nama pemimpin sebelumnya) yaitu jalanannya. Daerah di Jawa Barat yang sudah dekat ke perbatasan memiliki aspal jalan yang bisa dibilang bagus, halus, rata, dan layak untuk road bike, namun setelah kami memasuki wilayah Jawa Tengah, seingat kami daerah sebelum Cilacap, jalannya berubah jadi banyak berlubang. Walaupun memang jarang kami lihat pemukiman penduduk, namun  perbedaan tersebut sangat bisa dirasakan dan mencolok untuk daerah perbatasan antar provinsi.


Ada hal yang sampai sekarang masih sangat sulit kami tuangkan menjadi tulisan untuk dibagi kepada khalayak, kecuali mereka mengalaminya sendiri. Kami berempat adalah saksi bahwa tentram itu adalah kata yang masih bisa digunakan untuk mengungkapkan ketenangan batin yang hakiki. Kami ingat, saat itu waktu menunjukan pukul 6.30, masih sekitar perbatasan di Jawa Tengah dan kami mulai memasuki wilayah pemukiman penduduk. Kami melewati jalan yang bisa dibilang sepi dan sudah mulai bagus. Kami melihat beberapa penduduknya baru mulai keluar untuk beraktifitas, seperti anak sekolah yang sedang menunggu angkutan umum untuk menjemput impian mereka, para lelaki yang sudah memanggul cangkul untuk menarik rezeki mereka ke depan pintu, dan ibu ibu yang sedang berjalan tanpa menoleh ke belakang dan terus menghitung langkahnya untuk dijual di pasar. Dengan hanya memperhatikan mereka dari mobil yang melaju tidak terlalu cepat, kami sudah bisa melihat keindahan hidup mereka dalam dalam. Mungkin karena kami yang enam jam lalu masih berusaha untuk menjadi paling benar dan paling penting di jalanan Jakarta yang membuat kami sangat bisa meresapi dan menghargai apa yang sedang kami lewati ini. Namun diluar itu semua, ada hal yang kami rindukan dari langkah ibu ibu tersebut. Jauh dari pikiran wanita mana yang  akan kami persunting tahun depan, atau hanya sekedar wanita mana yang akan kami temui nanti, saat itu kami lebih merasa bahwa tempat ini sudah menjawab 'iya' untuk semua tumpukan ragu tentang masa depan. Semua aktifitas penduduk disana sangat menarik perhatian waktu hingga ia lupa untuk terus bergerak maju secara konstan pada dimensi ruang. Langkah ibu ibu itu telah menarik mundur waktu dengan ketenangan rahasia mereka dan kami pun larut ke dalamnya. Rumah rumah penduduk dengan orang tua yang sedang berada di terasnya dan jalanan yang berkelok kelok telah berhasil menghisap ego kami untuk menjadi pemenang walaupun tidak dalam perlombaan. Tempat ini benar benar mengingatkan kami bahwa hidup tidak melulu berupa kesenangan, tetapi juga ketentraman.


Sebentar kami berhenti untuk ber isti rahat di salah satu SPBU di Cilacap, perjalanan kemudian kami lanjutkan melalui jalur selatan. Berbekal Maps dari Google, kami mempertaruhkan keyakinan kami untuk sampai ke YOGKAKARTA kepada Maps tersebut melalui jalur selatan atau mungkin lebih tepatnya yaitu jalur paling selatan. Alhasil memang benar kami melalui jalur selatan, tapi bukan jalur yang umum digunakan para awak bis malam. nilai lebihnya yaitu kita bisa melihat laut selatan sesekali dari kejeuahan, kurangnya yaitu jarak menjadi makin jauh, jalanan gradakan, tidak bisa ngebut, debu, laut cuma sedikit doang kelihatannya, setelah itu zonk lagi.


ilustrasi Jalur Selatan versi Normal dan berbagai rute lain yang ditawarkan :





ilustrasi Jalur Paling Selatan versi kami (NB : Bahkan di rute lain yang ditawarkan pada versi normal tidak ada) :



Beruntung kami bukan orang orang yang diburu waktu. HA.


Pukul 10.30 kami akhirnya memasuki wilayah YOGYAKARTA bagian selatan, Bantul. Pengemudi satu akhirnya tewas di tempat. Ia sudah mengemudi selama hampir 10 jam. tidak lama setelah itu kami masuk daerah kota, di suatu pertigaan kami melihat marka jalan yang menunjukan jika kami berbelok ke arah kanan maka kami akan tiba di YOGKAKARTA. Saat itu pula sebauh lagu yang sudah kami persiapkan mulai berkumandang keras secara terus menerus. Darah dan Air Mata yang telah keluar terbayar lunas. 25 Mei 2013 pukul 12.00 kami tiba di YOGKAYARTA.







Kamis, 23 Oktober 2014

Menuju Permulaan

Suatu sore di awal tahun, secangkir kopi panas yang diiringi angin khas senja hari, dan sebuah jiwa yang mengajak raga untuk pergi ke tempat yang baru. Berawal dari sebuah obrolan ringan tentang betapa indahnya dunia untuk dijelajahi bersama, hingga sebuah kesepakatan bahwa kali ini sang jiwa berkata yang sejujurnya, kami butuh membawa raga kami ke suatu tempat yang tak akan kami lupakan.

Kami butuh kembali ke awal. Ya, seperti Desember yang telah kembali pada Januari, kami butuh permulaan yang baru. Seketika muncul pertanyaan baru di atas pertanyaan yang belum terselesaikan, “apakah arti sebuah kata ‘awal’ itu sendiri?”. Awal, permulaan, titik baru, nol. Benar sekali, 0! Titik 0 mdpl adalah tujuan kami. Di mana kami dapat menemui titik tersebut? Tentu saja di pantai dengan lautnya. Setelah semua kesepakatan menjadi satu. rencana segera disiapkan.

Kendaraan telah siap, rencana telah matang, 9 orang pasukan telah yakin jiwanya, siap bertempur melawan rasa penasaran seperti apa rasanya kembali ke awal. Jumat tengah malam di bulan Januari kami memulai perjalanan kami, meninggalkan rumah dan menitipkan kota tempat tinggal. Meminta doa agar pencarian kali ini dapat kami tuntaskan. Saat kendaraan mulai dijalankan, doa pun mulai kami panjatkan.

Pantai Rancabuaya, Garut Selatan adalah tujuan kami, medan perang kami, sebuah pantai ditepi pegunungan yang menjanjikan pemandangan pesisir panjang tanpa hingar bingar turis. Sebuah janji yang patut kami percaya, rangkaian kata-kata yang sanggup membuat kami terus membayangkan betapa nikmatnya menyeduh secangkir kopi panas bersama sahabat dan melontarkan guyonan-guyonan khas kami di antara gunung dan pantainya. Merenjana di dalam kepala.

Bernyanyi riang sepanjang perjalanan tak lantas membuat kami berhenti menunggu. Tak lantas membuat kami lupa tujuan kami. Beberapa gunung telah kami puncaki, beragam kota telah kami lintasi. Hingga kami tiba di gunung terakhir sebelum kami sampai di tujuan. Gunung yang menyambut kami dengan nyiurnya yang melambai seakan mengucapkan selamat datang di pesisir dan sekaligus membuat kami bertanya-tanya, apakah 237 kilometer telah kami lalui? Apakah kami benar-benar sedikit lagi akan sampai?

Beberapa menit setelah pertanyaan terlintas di kepala kami, tepat di akhir tanjakan di puncak gunung, kami melihat pemandangan yang tak akan kami lupakan. Terlihat sebuah pemandangan pantai panjang dengan ombaknya yang seakan membentuk Taian di ujung mata kami. Riang, sorak sorai tak bisa ditahan, kami hentikan sejenak perjalanan kami untuk memandangi dan menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang apa yang baru saja kami lihat. Indah. Sekejap membebaskan pikiran kami dari terungku putaran roda dan debu jalanan  ibukota.

Setelah decak kagum dirasa cukup, segera kami menuruni gunung. Jalan aspal yang dihimpit gunung dan pantai pun sudah bukan sekadar kata-kata, kami ada di sini, kami ada di atasnya.

Gedung-gedung beton tergantikan pohon kelapa yang menjulang. Suara klakson kendaraan-kendaraan yang berhimpitan tergantikan desir ombak yang lembut menabrak pantai. Pertokoan di tepi jalan yang penuh dengan kerumunan sekarang diganti oleh pemandangan sawah luas dengan gubuk kecil milik seorang petani di tengahnya. Tempat ini adalah antonim, sebuah tempat untuk melepaskan.

Hanya ada satu jalan beraspal di tempat itu, jalan yang menyambung ratusan kilometer rumah kami dengan surga kecil di selatan Jawa Barat ini, satu seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jalan aspal panjang yang membelah pegunungan dan laut yang kami lalui. Sepi, hening, tenang, menuntun kami mengikuti arah angin pagi yang bertiup dari arah laut, membawa aroma samudera ikut serta dalam tiap hembusannya.

Menelusur kami ke arah pantai, keluar dari jalan aspal, sedikit melambat sembari mencari tempat berteduh dan sekadar merebahkan kaki. Dapatlah sepasang kamar di lantai 2 sebuah rumah milik sepasang suami istri  yang memang sengaja dibangun untuk disewakan untuk para pencari plesir seperti kami. Sebuah rumah tepat di depan pantai, dengan balkonnya yang tepat menghadap ke arah pesisir, persis seperti yang kami inginkan.

                Hal pertama yang muncul di pikiran saya adalah memesan secangkir kopi panas dan membiarkan asapnya membawa segala pikiran tentang kota terbang dan menghilang membaur bersama udara, selagi saya menyeruput kental hitamnya yang sekental persahabatan yang telah sejarahnya telah kami ukir semenjak kecil.

                Di tempat inilah kami bercengkerama dengan alam, di tepian daratan. Berlari ke arah laut sambil bertelanjang dada, meninggalkan sejenak segala penat urusan ibukota. Namun tujuan kami belum usai, satu lokasi yang kami incar dan kami perhatikan juga sebagai tujuan utama kedatangan kami ke tempat ini. Sebuah bukit di tepi pantai di tepi jalan yang pagi tadi kami lewati, sangat menggoda untuk disambangi.

Menuju kehampaan


                Setelah melontarkan beberapa pertanyaan kepada sang pemilik penginapan, kami pun mendapatkan rute menuju ke tempat tersebut. Beranjak kami menuju ke sana pada senja hari. Tidak sampai setengah jam, sampailah kami di tempat tersebut, dan tak pelak langsung kami dibuatnya kagum. Sebuah bukit hijau berlatarkan pegunungan yang juga tak kalah hijaunya, menghadap ke arah laut lepas dengan garis horizon Samudera Hindia menjadi batasnya. Layaknya sebuah balkon alam yang seperti sengaja didesain oleh Tuhan sebagai tempat untuk memahami bagian bumi pesisir pantai selatan dengan segala panorama yang menghiasinya, bukit Guha, nama tempat itu. Tak banyak kami berbicara, mata dan jiwa yang lebih banyak menikmatinya. Terduduk kami di tepian melihat ombak beradu merdu dengan burung-burung sambil meresapi jingga tenggelamnya sang matahari.

Alam jadi satu

                Malam hari telah menjelang, adzan magrib telah berkumandang dengan lantang. Kami pun kembali menuju penginapan. Saat hari tak lagi transisi, kembali kami ke bantaran pantai untuk menikmati malam, memesan beberapa minuman dan kudapan untuk menemani kami menikmati sinar bulan yang saat itu sedang temaram. Duduk melingkari sebuah lilin, kami saling berbagi cerita masa lalu sekaligus tanpa sadar sedang mengukir cerita masa depan.


Perjalanan ini bukanlah yang pertama, dan kami tak ingin menjadi yang terakhir. Ucap syukur kami kepada Tuhan yang telah memberikan kami kesempatan dan kebersamaan dalam kehangatan persahabatan. Terima kasih kami untuk tempat ini yang telah melengkapi pencarian kami seperti apa rasanya kembali ke awal. Di pagi hari mengikuti arah angin laut, kami kembali masuk ke daratan, pulang ke kota kami tanpa lupa meninggalkan sebuah janji, bahwa satu hari nanti, kami akan kembali lagi.

Sehangat kopi di senja hari